Abdurrahman Wahid (Gus dur) Meninggal Dunia

Rabu, 30 Desember 2009

Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Presiden keempat Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid, yang akrab disapa Gus Dur, pada Rabu pukul 18.45 WIB, meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.
sesaat sebelum mengembuskan napas terakhir, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono datang menjenguk. "Tak lama SBY keluar, Gus Dur wafat,kata asisten pribadi Gus Dur, Bambang Susanto.
Gus Dur dirawat di RSCM sejak Jumat (25/12) pekan lalu. Sebelumnya, Kamis (24/12) Gus Dur sempat dirawat Unit Gawat Darurat RSU Swadana, Jombang. Saat itu dikabarkan gula darahnya drop setelah berziarah ke sejumlah makam tokoh NU. Kemudian Gus Dur dirujuk ke RSCM dan menjalani cuci darah.

 Biografi Presiden keempat Abdurrahman Wahid

Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur menjabat Presiden RI ke-4 mulai 20 Oktober 1999 hingga 24 Juli 2001. Beliau lahir tanggal 4 Agustus 1940 di desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara. Ayahnya adalah seorang pendiri organisasi besar Nahdlatul Ulama, yang bernama KH. Wahid Hasyim. Sedangkan Ibunya bernama Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Dari perkawinannya dengan Sinta Nuriyah, mereka dikarunia empat orang anak, yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh, Annita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari.
Sejak masa kanak-kanak, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Selain itu beliau juga aktif berkunjung keperpustakaan umum di Jakarta. Pada usia belasan tahun Gus Dur telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku. Di samping membaca, beliau juga hobi bermain bola, catur dan musik. Bahkan Gus Dur, pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya ini menimbulkan apresiasi yang mendalam dalam dunia film. Inilah sebabnya mengapa Gu Dur pada tahun 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia.
Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studinya di Mesir. Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya, yaitu Sinta Nuriyah anak Haji Muh. Sakur. Perkawinannya dilaksanakan ketika Gus Dur berada di Mesir.
Sepulang dari pengembaraannya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, beliau bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang. Tiga tahun kemudian beliau menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng, dan pada tahun yang sama Gus Dur mulai menjadi penulis. Beliau kembali menekuni bakatnya sebagaii penulis dan kolumnis. Lewat tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak.
Pada tahun 1974 Gus Dur diminta pamannya, K.H. Yusuf Hasyim untuk membantu di Pesantren Tebu Ireng Jombang dengan menjadi sekretaris. Dari sini Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan menjadi nara sumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri. Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pertama di LP3ES bersama Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin dan Adi Sasono dalam proyek pengembangan pesantren, kemudian Gus Dur mendirikan P3M yang dimotori oleh LP3ES.
Pada tahun 1979 Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula beliau merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai wakil katib syuriah PBNU. Di sini Gus Dur terlibat dalam diskusi dan perdebatan yang serius mengenai masalah agama, sosial dan politik dengan berbagai kalangan lintas agama, suku dan disiplin. Gus Dur semakin serius menulis dan bergelut dengan dunianya, baik di lapangan kebudayaan, politik, maupun pemikiran keislaman. Karier yang dianggap `menyimpang`-dalam kapasitasnya sebagai seorang tokoh agama sekaligus pengurus PBNU-dan mengundang cibiran adalah ketika menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahunn 1983. Beliau juga menjadi ketua juri dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1986, 1987.
Pada tahun 1984 Gus Dur dipilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-`aqdi yang diketuai K.H. As`ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan ketua umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo. Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada muktamar ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta (1989), dan muktamar di Cipasung Jawa Barat (1994). Jabatan ketua umum PBNU kemudian dilepas ketika Gus Dur menjabat presiden RI ke-4. Selama menjadi presiden, tidak sedikit pemikiran Gus Dur kontroversial. Seringkali pendapatnya berbeda dari pendapat banyak orang.

Biodata Abdurrahman Wahid

Nama: Abdurrahman Wahid
Lahir : Denanyar, Jombang, Jawa Timur, 4 Agustus 1940.
Orang Tua: Wahid Hasyim (ayah), Solechah (ibu).
Istri : Sinta Nuriyah
Anak-anak : Alisa Qotrunada Zannuba Arifah Anisa Hayatunufus Inayah Wulandari
Pendidikan :
• Pesantren Tambak Beras, Jombang (1959-1963)
• Departemen Studi Islam dan Arab Tingkat Tinggi, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir (1964-1966)
• Fakultas Surat-surat Universitas Bagdad (1966-1970)
Karir:
• Pengajar Pesantren Pengajar dan Dekan Universitas Hasyim Ashari Fakultas Ushuludin (sebuah cabang teologi menyangkut hukum dan filosofi)
• Ketua Balai Seni Jakarta (1983-1985)
• Penemu Pesantren Ciganjur (1984-sekarang)
• Ketua Umum Nahdatul Ulama (1984-1999)
• Ketua Forum Demokrasi (1990)
• Ketua Konferensi Agama dan Perdamaian Sedunia (1994)
• Anggota MPR (1999)
• Presiden Republik Indonesia (20 Oktober 1999-24 Juli 2001)
Penghargaan
• Penghargaan Magsaysay dari Pemerintah Filipina atas usahanya mengembangkan hubungan antar-agama di Indonesia (1993)
• Penghargaan Dakwah Islam dari pemerintah Mesir (1991)

Berita Terkait:

15 komentar:

mas doyok mengatakan...

turut berbela sungkawa :(
guru saya nih mas

Mamas Ipenk mengatakan...

turut berduka cita

oppie mengatakan...

Beliau emang tokoh yang unik dan tenar
Semoga arwah beliau diterima di sisi alloh SWT amin

Anonim mengatakan...

ALHAMDULILAH , SANG BIANG KEROK MENINGGAL...MUDAH2AN MASUK SURGA TUH ORANG SEDENG !!!!!!MARI UCAPKAN SYUKUR !!GUSDUR LAKNATULLAHH

kakve_santi mengatakan...

inalilahi wa inailaihi rojiun...

elyas mengatakan...

inalilahi wa inailaihi rojiun...

ihsan mufthi mengatakan...

iNaLillAHi winna Ilaihi Ra'jiun,,
mudahmuadhan arwah beliau dterima disinya

Jaka Utama mengatakan...

mudah2an beliau diterima ya di alam sana
amin
btw nice inpoh gan!

Dena Madona mengatakan...

sip infonya....

hadi mengatakan...

Gus Dur merupakan tokoh yang punya segudang prestasi dan penghargaan sebagai penyatu umat

Blog Informasi mengatakan...

salah satu putra bangsa telah meinggalkan kita, sekarang kitalah yang harus meneruskan perjuangan beliau

ROSMANA APOLLA PUTERA mengatakan...

Seorang lagi salah satu Putera terbaik bangsa ini. Innalilahiwainnailaihirojiun...

warteg mengatakan...

bapak bangsa dan negarawan telah meninggalkan kita senua...semoga amal neliau diterima disisinya amin

onny mengatakan...

turut berduka cita.. semoga beliau diterima disisiNya. Amin

Kerja Di Rumah mengatakan...

Di penghujung tahun 2009, bangsa Indonesia kembali ditinggal oleh salah satu putra terbaiknya. KH. Abdurrahman Wahid, presiden RI ke-4 kembali menghadap sang khalik. Sebuah kehilangan besar bagi bangsa ini.

Selamat jalan. Bagaimana pun penilaian orang atas perbuatanmu, namun sudah sepantasnya apabila kita mendo’akan semoga amal ibadah beserta semua kebaikannya semasa hidup dapat diterima oleh sang Maha Kuasa. Amiin.
Membuat Blog

Posting Komentar

BERITA TERKINI

Kabar Video